0

Sneakers Watch

Posted on Tuesday, July 2




1. Zig Dynamic Blue Aggressive Running Shoe


2. Zig Dynamic Black Silver Running Shoe


3. Zig Reetrek TR Gravel/Grey/Orange/Blck/Silver Running Shoe


4. Zig Reetrek TR Green/Black/Grey

5. Zig Reetrek Grey/Gravel/Orange Athletic




0

5 Reasons To Watch German Football

Posted on Sunday, March 10


Tidak adil rasanya bila kita menyangsikan bahwa sepak bola Jerman adalah kompetisi kasta nomor 2 di Eropa. Berikut beberapa alasan untuk hal itu.


1. They get pace in their proper football
Saya pribadi tidak banyak mengenal pemain-pemain yang saya tonton, tapi saya selalu menikmati mereka bermain dengan permainan yang mengandalkan transisinya bola yang cepat. Bila kita cermati 4 tim teratas dalam klasemen Bundesliga musim ini, yakni, Bayern, Dortmund, Leverkusen, dan Schalke, semuanya menggunakan formasi 4-2-3-1. Leverkusen terkadang memakai 4-3-3, tapi prakteknya di lapangan, mereka sering bertransformasi dengan hanya memiliki 1 striker pada sosok Stefan Kie├čling. Dalam formasi 4-2-3-1, sebuah tim menjadi mempunyai 2 holding midfielder di belakang seorang trequartista. Dan biasanya diantara 2 holding midfielder tersebut, selalu ada yang berperan lebih destroyer dan yang lainnya berperan sebagai passer. Ini memungkinkan sebuah tim untuk bertransisi cepat dari kondisi bertahan menjadi menyerang, tentu dengan bantuan trequartista yang mempunyai banyak opsi untuk membangun serangan dengan masih adanya 2 winger dan seorang striker di sekelilingnya. Pada era sepak bola millennium awal, Rafa Benitez, harus diakui sebagai orang yang mempopulerkan formasi ini. Saat di Valencia, dia memenangkan La Liga dan UEFA Cup dengan duet Ruben Baraja dan David Albelda ditambah trequartista dalam diri Pablo Aimar.

2. They develop young players well
Mata dan telinga kita seakan menjadi saksi bagaimana Jerman melahirkan bakat-bakat muda yang luar biasa dalam 5 tahun terakhir. Angkatan ‘tertua’ dari masa yang singkat ini dipimpin oleh Mesut Ozil dan Thomas Muller. Mereka telah membuktikan kematangan mereka di World Cup 2010, Muller bahkan jadi top scorer. Tidak berhenti disitu saja, kemudian muncul lagi nama-nama seperti Reus, Gotze, dan Kie├čling. Mereka digadang-gadang sudah menjadi tulang punggung Jerman di Brazil tahun depan. Dan untuk angkatan yang paling baru, muncul lah nama Julian Draxler. Dia menjadi pemain termuda yang mencatat 100 caps di Bundesliga dalam usia 19 tahun. Kemunculan Draxler ini ibarat anomali. Posisi awalnya adalah lebih ke kiri. Namun ketika Holtby dijual ke Spurs dan kebetulan Afellay cedera. Draxler digeser sebagai trequartista, hasilnya malah positif, dia mencetak banyak gol.

3. They have quality in Europe
Ketika Inggris, Spanyol, dan Italia seret wakil di fase quarter final Liga Champions nanti. Jerman malah berpeluang menjadi negara penyumbang tim terbanyak. Dortmund sudah lolos, Bayern bahkan sudah menelepon Arsene Wenger untuk booking satu tempat, begitu pun Schalke, mempunyai kans lolos yang sangat besar dengan memiliki second leg rabu besok di Veltins Arena dengan tabungan 1 gol tandang. Perlu diketahui juga, dari ketiga wakil Jerman di Liga Champions musim ini, semuanya menjadi juara grup. Schalke finish di atas Arsenal (lagi-lagi saya harus menyinggung tim tersebut..). Lalu Dortmund nyaman di puncak, di atas para jawara La Liga, Premier League, dan Eredivisie musim lalu. Bayern? Tak usah tanyakan keabsahannya.

4. Second home for Asians
Jangan terkejut bila suatu hari nanti anda melihat daftar komoditi eskpor terbesar negara Jepang dan Korea Selatan di majalah Forbes. Mungkin akan tercantum daftar ‘Pemain sepak bola’ dalam daftar tersebut. Tak heran, karena memang itu lah yang terjadi. Di Jerman, pemain-pemain dari Asia tidak serta merta dikontrak hanya untuk trial atau hanya menjadi katalis dalam penjualan merchandise tim. Mari ambil contoh sedikit dari sekian banyak yang menjadi regular di tiap gameweek, Okazaki di Sttutgart, Uchida di Schalke, Ji Dong Woon dan Koo Ja Cheol di Augsburg. Serta yang lebih membuat Asia bangga, Makoto Hasebe telah menjadi kapten Wolfsburg, lalu rekan senegaranya, Shinji Kagawa, pemain Asia pertama yang catat hattrick di ranah Britania pekan lalu adalah lulusan Bundesliga.

5. Atmosphere and crowd
Bundesliga musim lalu tercatat menjadi liga dengan penonton terbanyak yang datang langsung ke stadion. Walaupun harga tiket pertandingan di Jerman terkenal tidak murah, hingga menjelang laga putaran terakhir yang digelar akhir musim lalu, tercatat 13.360.131 penonton hadir di stadion. Statistik yang menunjukkan keberhasilan federasi sepak bola Jerman mengolah liganya sehingga membuat penonton nyaman. Soal fanatisme, saya tidak akan terlalu banyak berkomentar, cukup coba anda saksikan pertandingan antara Manchester City dan Dortmund di Etihad Oktober tahun lalu, lihat betapa gilanya fanatisme away fans Dortmund di tribun kala itu.

0

Psychology Takes Control Off The Pitch

Posted on Wednesday, March 6

Ryan Giggs sudah mencatat 1000th caps bersama Manchester United sepanjang karir profesionalnya, Cristiano Ronaldo pun untuk pertama kalinya telah kembali ke Stratford End. Namun tetap saja ada yang kurang dalam pertandingan United vs Madrid semalam. Apakah itu?



Berbicara tentang United vs Madrid semalam, tentu berbicara pula mengenai Sir Alex Ferguson dan Jose Mourinho. Rivalitas keduanya bukan yang terhebat. Mereka tidak bertemu secara regular di setiap musimnya. Tapi ibarat api dalam sekam, setiap kali keduanya bersua, selalu ada saja cerita di balik sesudahnya.

Masih segar dalam ingatan otak kita, Mourinho muda berlari sprint 100 meter ketika berselebrasi merayakan gol rebound Costinha bersama Porto di musim 2004 lalu. Lalu, kepalan jari di hadapan publik Nou Camp yang memaksa pemain Barcelona menghampirinya di semifinal Liga Champions musim 2010. Yang terbaru dan yang cukup fenomenal dari Mourinho, selebrasi meluncur di tanah dengan 2 kaki ketika gol menit akhir Ronaldo di Bernabeu menegaskan bahwa Manchester City masih terlalu hijau di Eropa. Meluncurnya 2 kaki Mou dengan kepalan 2 tangannya bahkan lebih diingat dibanding selebrasi Ronaldo sendiri kala itu.

Tetapi ketika pre-match interview pertandingan semalam, Mou telah berstatement bahwa dirinya tidak akan berlari sprint jarak pendek bila timnya menang serta tak akan menangis bila timnya pulang. Dan benar saja, dia membuktikan ucapannya. Tak banyak hal-hal menarik yang tertangkap kamera pada Mou di pertandingan semalam. Dia tidak meledak-meledak seperti biasanya. Bila ada satu yang menarik, mungkin sesaat setelah Nani diusir wasit. Mou menghampiri Fergie, lalu berbisik, dan Fergie seperti mengangguk. Dari scene tersebut, pundit Skysports yakni, Niall Quinn, berasumsi bahwa Mou membisikkan kalimat semacam, “It was a poor decision, wasn’t it?” pada Fergie.

Di akhir pertandingan, tepatnya saat post-match interview, Mou sekali lagi menunjukkan ada yang ‘salah’ dalam dirinya malam itu. Dia berkata, “The best team lost". Dia tidak seperti biasanya berkata sejumawa itu dalam suatu pertandingan yang tensinya setinggi kemarin. Entah ini benar atau tidak, menurut saya,  sesungguhnya apa yang dikatakan Mourinho bukan dalam bentuk berempati sepenuhnya, tetapi lebih ke seperti idiom singkat berbunyi “Saya merendah untuk ditinggikan..”

Sudah cukup kita membahas Mourinho. Ada satu lagi tokoh sepak bola yang cukup mencuri perhatian kemarin, yakni legenda United, Roy Keane.

Roy Keane semalam kembali muncul di publik sebagai pundit dari ITV. Salah satu statementnya yang mana bahwa keputusan wasit dengan mengusir Nani adalah suatu keputusan yang tepat. Saya tak mengerti apakah fans United menjadi murka seperti murkanya Fegie terhadap Keane di akhir karirnya di Old Trafford. Tapi yang jelas, tak ubahnya seperti Mourinho, Roy Keane sudah sejak lama dikenal pula sebagai sosok yang meledak-ledak. Di tahun 2005, ketika United dikalahkan 4-1 oleh Middlesbrough, Roy Keane secara terang-terangan berkata pada MUTV bahwa John O’Shea, Alan Smith, Kieran Richardson, dan Darren Fletcher yang notabenenya adalah rekan-rekan setimnya di United saat itu adalah para pemain yang malas di lapangan. Selain itu, Keane juga pernah berkata pada Rio Ferdinand, Just because you are paid £120,000-a-week and play well for 20 minutes against Tottenham, you think you are a superstar.”

Sebagai pihak netral dalam pertandingan semalam, 2 statement dari Mourinho dan Roy Keane terdengar sangat aneh bagi saya. Pun begitu untuk para fans United. They used to love Keane's freakness until last night.

Begitu lah sepak bola, tak melulu soal fisik, taktik, dan segala yang ada di atas lapangan. Hal-hal kecil di luar lapangan pun merupakan sesuatu yang menarik untuk diikuti.

0

2012

Posted on Monday, December 31

Baiklah, saya mau luruskan sesuatu hal terlebih dulu. Jika sebelumnya kalian mengira saya adalah tipe orang yang punya orientasi tinggi pada tanggal-tanggal cantik seperti cewek-cewek kebanyakan karena memilih menulis kembali di blog tepat di akhir tahun, maka kalian akan sepenuhya salah. Karena yang sebenarnya terjadi adalah, saat membuka jumlah postingan yang saya posting tahun ini, saya sendiri juga mikir, ‘Sebegitu sibuknya saya setahunan ini..’

Mari kita kilas balik sebentar. Tahun 2012.. banyak sekali perpindahan dalam hidup di tahun ini untuk saya. Mulai dari pindah ke rumah yang baru, punya kelas yang baru, sampai saya juga jadi lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-teman yang baru, tapi untuk hati.. yang satu ini pengecualian, tetap satu dan masih pada orang yang sama.

Jika Raditya Dika bisa jadi salmon di hidupnya, saya pun bisa jadi penguin di hidup saya. Salmon dan penguin sama-sama butuh migrasi ke tempat yang baru kalo lingkungannya berubah, bedanya, penguin hewan paling setia sama pasangan dan teman-temannya.

I’m happy for having them all
Have a great year ahead, people