March 2012

0

My Favorite Stuffs

Posted on Thursday, March 29

Setiap orang mempunyai caranya tersendiri untuk mengembalikan moodnya. Bisa dengan menonton film, membaca buku, mendengarkan musik, atau dengan cara yang paling sederhana seperti cara saya, melihat langit. Langit adalah cerminan dari imajinasi kita. Dengan begitu, melihat langit bisa juga dikatakan memainkan dan mengatur imajinasi sesuka hati kita yang muaranya nanti akan berpengaruh ke mood kita.



Cara kedua, minum kopi dan lagu-lagu Adhitia Sofyan. Hati saya seperti sudah tertambat pada "September, After the Rain, Gaze..dll"-nya Adhitia Sofyan.

Lirik-lirik dan alunan gitar Adhitia Soyan ibarat filosofi total football yang melegenda dari Rinus Michels. Lalu kopi adalah bentuk penyempurnannya, sebagaimana para Catalan mengimpresikan filosofi Rinus Michels tersebut di lapangan bola sekarang. Keduanya sama-sama indah.

0

Paham Politikisme Dalam Sepak Bola

Posted on Tuesday, March 13

Berbicara tentang sepak bola, erat kaitannya dengan politik. Keduanya saling berkaitan antar satu sama lain. Apalagi di negara-negara yang sepak bolanya masih dalam tahap berkembang seperti di Indonesia. Tidak hanya di negara-negara yang berkembang, di negara-negara yang maju pun demikian. Siapa yang tidak mengenal Silvio Berlusconi? Mantan perdana menteri Italia yang pernah menjabat dalam 3 periode yang berbeda. Ia pemilik klub AC Milan. Saat menjadi perdana menteri, Silvio Berlusconi tidak melulu berurusan dengan politik, ia dikenal sebagai pebisnis ulung, ia mengakuisisi AC Milan dan menjadikan klub itu ladang bisnisnya selain perusahaan stasiun tv nasional dan surat kabar terbesar di Italia yang dimilikinya.
Di negara kita, sepak bola bukan menjadi rahasia lagi bila telah menjadi dagangan politik. Para politikus-politikus berlomba-lomba mencari simpatisannya melalui jalur ini. Bukan hal yang baru jika kita sering melihat stadion-stadion di Indonesia sering disewa untuk digunakan acara-acara kampanye. Saya masih ingat tahun 2008, rumput stadion utama Gelora Bung Karno rusak berat akibat acara partai politik yang diadakan disana, padahal sehari setelah itu timnas kedatangan raksasa dari Jerman, Bayern Muenchen. Apa daya? Kita harus melihat Oliver Kahn menjalani laga perpisahannya di lapangan yang rumputnya rusak berat.
Negara kita masih dalam tahap mengindustrialisasikan sepak bolanya. Dalam arti, sepak bola kita belum sepenuhnya profesional layaknya di Eropa. Hal tersebut kembali erat kaitannya dengan politik. Belum profesional sepenuhnya sama saja masih mengandalkan APBD. Dalam hal ini lah para politikus-politikus di daerah menggunakan sepak bola untuk memuluskan kepentingannya khususnya disaat masa-masa menjelang pilkada atau sejenisnya.
Kasus terbaru terdapat pada sosok Alex Noerdin. Gubernur Sumatera Selatan yang mengaku juga sebagai pengagum olahraga di negeri ini. Akhir-akhir ini Alex Noerdin disebut-sebut akan diusung partai Golkar dibawah naungan Aburizal Bakrie untuk menjadi calon gubernur DKI Jakarta pada masa periode yanga kan datang. Entah partai Golkar yang memang jago berpolitik dalam sepak bola atau bagaimana, seperti saat AFF 2010 timnas diundang dijamu makan di kediaman petinggi Golkar itu.
Start “kampanye” awal telah dilakukan ketika Persija melawan Persegres di GBK. Alex Noerdin tampak datang menonton pertandingan sambil memakai syal Persija. Cukup aneh bukan, seorang gubernur Sumatera Selatan datang menonton Persija dan memakai syal oranye kebanggaan Persija, padahal Sumatera Selatan sendiri punya Sriwijaya FC. Padahal seminggu sebelumnya, banner Alex Noerdin masih terpampang jelas di samping lapangan Gelora Jakabaring Palembang ketika Sriwijaya menjamu Mitra Kukar. Alex Noerdin tidak sendiri hadir di GBK, ia didampingi Hendry Zainuddin yang tidak bukan merupakan direktur teknik dari Sriwijaya FC. Hendry bahkan terlihat lebih “aneh” lagi, ia bahkan memakai kaos oranye kebanggaan Persija. Apakah tidak lebih aneh, seorang direktur teknik suatu tim datang menonton tim yang merupakan rival dari timnya sendiri dan memakai kaos tim rivalnya tersebut.
Jika alasan yang dikemukakan nantinya adalah beliau-beliau ini menonton Persija dan memakai atribut Persija dikarenakan Sriwjiaya masih memiliki ikatan historis dengan Persijatim Jakarta Timur di masa lalu. Maka saya bersukur selama ini bukan menjadi bagian pendukung sejati Sriwijaya, karena saya tidak merasakan sakit hati seperti yang dirasakan fans-fans Sriwijaya disana.

0

Era Baru Kenny Dalglish

Posted on Thursday, March 1

Tepat 1 tahun dan 1 bulan sejak comeback-nya Kenny Dalglish ke Melwood. Liverpool akhirnya kembali berhasil merengkuh gelar pertamanya setelah puasa gelar hampir selama kurang lebih 6 tahun dan juga mengakhiri penantian panjangnya untuk kembali ke Wembley setelah 16 tahun lamanya. King Kenny seperti tahu benar bagaimana cara untuk mengembalikan pesta juara yang selama ini sangat dirindukan oleh seluruh Liverpudlian di seantero dunia.

Seperti penggalan quote Kenny yang saya baca di beberapa media online beberapa hari kemarin, yang kurang lebih isinya seperti ini, "Sebelum Istanbul, generasi fans saat itu tidak punya cerita seperti yang orang tua mereka punya, karena LFC bertahun-tahun tidak ke final UCL. Mereka akhirnya punya kisah tentang perjalanan & perayaan di Istanbul. Meski Carling kompetisi kecil, fans juga akan tetap punya cerita..".
Yap, benar.. Kenny memberi cerita lain kepada kita semua Minggu lalu, meski dengan jalan cerita yang hampir sama dengan cerita-cerita yang sebelumnya. Cerita final dramatis yang berujung manis. Tipikal Liverpool memang.
Pertandingan tampak akan terasa berjalan mudah bagi Liverpool ketika di menit ke-2 tendangan Glen Johnson sudah membentur mistar gawang Cardiff. Quarter awal babak pertama begitu didominasi Liverpool terutama lewat sisi kiri oleh Stewart Downing yang tampil begitu impresif malam itu. Namun tak lama, tribun The Kop di belakang gawang Reina tiba-tiba dikejutkan oleh gol cepat Joe Mason. 1-0 untuk Cardiff.
Di sisa akhir babak pertama Liverpool terus mengurung pertahanan Cardiff, tetapi skor tidak berubah sampai turun minum. Babak kedua dimulai, Liverpudlian mulai harap-harap cemas, banyak peluang emas gagal dari Suarez, Carroll, dan Agger yang semakin membuat jantung para Liverpudlian berdetak lebih keras dan cepat. Hingga akhirnya, Martin Skrtel mencairkan semuanya. Sebuah tendangan menulusur tanah hasil rebound Suarez yang melewati sela-sela kaki kiper Cardiff. Skor berubah imbang, 1-1.
Skor terus berimbang. Kenny Dalglish mulai terdesak untuk memasukkan nama-nama baru yang bisa menyegarkan permainan. Berbagai percobaan terus dilakukan. Dan itu akhirnya membuahkan hasil nyata, Dirk Kuyt muncul sebagai sosok protagonis. Gol Kuyt meledakkan Wembley. Liverpudlian mulai menyayikan chant-chant seakan amat yakin bila Carling Cup tahun ini akan terbang ke Anfield. Namun tidak secepat itu, lads.. Ben Turner mengingatkan kita semua agar tidak berpesta kepagian dan kembali melihat ke tanah sebelum wasit meniupkan peluit panjangnya. Kita disuguhi jalan cerita yang sama lagi, adu penalti.

Jari-jari dan rahang yang menegang mencapai klimaksnya. Sempat diwarnai drama kecil keluarga Gerrard yang sama-sama gagal mengeksekui penalti, Liverpool lagi-lagi menunjukkan magisnya di final.
Kemenangan ini membawa kita kembali ke medio awal 2000-an di masa kepelatihan Gerrard Houllier. Momennya sama persis. Setelah hampa gelar di akhir 90-an, Houllier menghapus dahaga kala itu dengan membawa Liverpool menjuarai Carling cup edisi 2001. Skuad Liverpool pun tak kalah sama persis seperti sekarang, yakni perpaduan seimbang antara pemain muda dan pemain senior. Bila waktu itu Robbie Fowler dan Gary McAllister yang membimbing Michael Owen, Steven Gerrard, dan Jamie Carragher. Kini giliran Stevie dan Carra lah yang gantian membimbing pemain-pemain muda semacam Carroll, Downing, dan Henderson. Bila dihitung dengan matematika dasar di atas kertas putih, dari trofi Carling Cup 2001 ke trofi Uefa Champions League 2005 hanya membutuhkan 4 tahun saja.
Maka, bukankah tidak salah bila kita berharap yang sama dalam beberapa tahun ke depan? Biarkan King yang menjawabnya.