Showing posts with label footy thoughts. Show all posts

0

5 Reasons To Watch German Football

Posted on Sunday, March 10


Tidak adil rasanya bila kita menyangsikan bahwa sepak bola Jerman adalah kompetisi kasta nomor 2 di Eropa. Berikut beberapa alasan untuk hal itu.


1. They get pace in their proper football
Saya pribadi tidak banyak mengenal pemain-pemain yang saya tonton, tapi saya selalu menikmati mereka bermain dengan permainan yang mengandalkan transisinya bola yang cepat. Bila kita cermati 4 tim teratas dalam klasemen Bundesliga musim ini, yakni, Bayern, Dortmund, Leverkusen, dan Schalke, semuanya menggunakan formasi 4-2-3-1. Leverkusen terkadang memakai 4-3-3, tapi prakteknya di lapangan, mereka sering bertransformasi dengan hanya memiliki 1 striker pada sosok Stefan Kießling. Dalam formasi 4-2-3-1, sebuah tim menjadi mempunyai 2 holding midfielder di belakang seorang trequartista. Dan biasanya diantara 2 holding midfielder tersebut, selalu ada yang berperan lebih destroyer dan yang lainnya berperan sebagai passer. Ini memungkinkan sebuah tim untuk bertransisi cepat dari kondisi bertahan menjadi menyerang, tentu dengan bantuan trequartista yang mempunyai banyak opsi untuk membangun serangan dengan masih adanya 2 winger dan seorang striker di sekelilingnya. Pada era sepak bola millennium awal, Rafa Benitez, harus diakui sebagai orang yang mempopulerkan formasi ini. Saat di Valencia, dia memenangkan La Liga dan UEFA Cup dengan duet Ruben Baraja dan David Albelda ditambah trequartista dalam diri Pablo Aimar.

2. They develop young players well
Mata dan telinga kita seakan menjadi saksi bagaimana Jerman melahirkan bakat-bakat muda yang luar biasa dalam 5 tahun terakhir. Angkatan ‘tertua’ dari masa yang singkat ini dipimpin oleh Mesut Ozil dan Thomas Muller. Mereka telah membuktikan kematangan mereka di World Cup 2010, Muller bahkan jadi top scorer. Tidak berhenti disitu saja, kemudian muncul lagi nama-nama seperti Reus, Gotze, dan Kießling. Mereka digadang-gadang sudah menjadi tulang punggung Jerman di Brazil tahun depan. Dan untuk angkatan yang paling baru, muncul lah nama Julian Draxler. Dia menjadi pemain termuda yang mencatat 100 caps di Bundesliga dalam usia 19 tahun. Kemunculan Draxler ini ibarat anomali. Posisi awalnya adalah lebih ke kiri. Namun ketika Holtby dijual ke Spurs dan kebetulan Afellay cedera. Draxler digeser sebagai trequartista, hasilnya malah positif, dia mencetak banyak gol.

3. They have quality in Europe
Ketika Inggris, Spanyol, dan Italia seret wakil di fase quarter final Liga Champions nanti. Jerman malah berpeluang menjadi negara penyumbang tim terbanyak. Dortmund sudah lolos, Bayern bahkan sudah menelepon Arsene Wenger untuk booking satu tempat, begitu pun Schalke, mempunyai kans lolos yang sangat besar dengan memiliki second leg rabu besok di Veltins Arena dengan tabungan 1 gol tandang. Perlu diketahui juga, dari ketiga wakil Jerman di Liga Champions musim ini, semuanya menjadi juara grup. Schalke finish di atas Arsenal (lagi-lagi saya harus menyinggung tim tersebut..). Lalu Dortmund nyaman di puncak, di atas para jawara La Liga, Premier League, dan Eredivisie musim lalu. Bayern? Tak usah tanyakan keabsahannya.

4. Second home for Asians
Jangan terkejut bila suatu hari nanti anda melihat daftar komoditi eskpor terbesar negara Jepang dan Korea Selatan di majalah Forbes. Mungkin akan tercantum daftar ‘Pemain sepak bola’ dalam daftar tersebut. Tak heran, karena memang itu lah yang terjadi. Di Jerman, pemain-pemain dari Asia tidak serta merta dikontrak hanya untuk trial atau hanya menjadi katalis dalam penjualan merchandise tim. Mari ambil contoh sedikit dari sekian banyak yang menjadi regular di tiap gameweek, Okazaki di Sttutgart, Uchida di Schalke, Ji Dong Woon dan Koo Ja Cheol di Augsburg. Serta yang lebih membuat Asia bangga, Makoto Hasebe telah menjadi kapten Wolfsburg, lalu rekan senegaranya, Shinji Kagawa, pemain Asia pertama yang catat hattrick di ranah Britania pekan lalu adalah lulusan Bundesliga.

5. Atmosphere and crowd
Bundesliga musim lalu tercatat menjadi liga dengan penonton terbanyak yang datang langsung ke stadion. Walaupun harga tiket pertandingan di Jerman terkenal tidak murah, hingga menjelang laga putaran terakhir yang digelar akhir musim lalu, tercatat 13.360.131 penonton hadir di stadion. Statistik yang menunjukkan keberhasilan federasi sepak bola Jerman mengolah liganya sehingga membuat penonton nyaman. Soal fanatisme, saya tidak akan terlalu banyak berkomentar, cukup coba anda saksikan pertandingan antara Manchester City dan Dortmund di Etihad Oktober tahun lalu, lihat betapa gilanya fanatisme away fans Dortmund di tribun kala itu.

0

Psychology Takes Control Off The Pitch

Posted on Wednesday, March 6

Ryan Giggs sudah mencatat 1000th caps bersama Manchester United sepanjang karir profesionalnya, Cristiano Ronaldo pun untuk pertama kalinya telah kembali ke Stratford End. Namun tetap saja ada yang kurang dalam pertandingan United vs Madrid semalam. Apakah itu?



Berbicara tentang United vs Madrid semalam, tentu berbicara pula mengenai Sir Alex Ferguson dan Jose Mourinho. Rivalitas keduanya bukan yang terhebat. Mereka tidak bertemu secara regular di setiap musimnya. Tapi ibarat api dalam sekam, setiap kali keduanya bersua, selalu ada saja cerita di balik sesudahnya.

Masih segar dalam ingatan otak kita, Mourinho muda berlari sprint 100 meter ketika berselebrasi merayakan gol rebound Costinha bersama Porto di musim 2004 lalu. Lalu, kepalan jari di hadapan publik Nou Camp yang memaksa pemain Barcelona menghampirinya di semifinal Liga Champions musim 2010. Yang terbaru dan yang cukup fenomenal dari Mourinho, selebrasi meluncur di tanah dengan 2 kaki ketika gol menit akhir Ronaldo di Bernabeu menegaskan bahwa Manchester City masih terlalu hijau di Eropa. Meluncurnya 2 kaki Mou dengan kepalan 2 tangannya bahkan lebih diingat dibanding selebrasi Ronaldo sendiri kala itu.

Tetapi ketika pre-match interview pertandingan semalam, Mou telah berstatement bahwa dirinya tidak akan berlari sprint jarak pendek bila timnya menang serta tak akan menangis bila timnya pulang. Dan benar saja, dia membuktikan ucapannya. Tak banyak hal-hal menarik yang tertangkap kamera pada Mou di pertandingan semalam. Dia tidak meledak-meledak seperti biasanya. Bila ada satu yang menarik, mungkin sesaat setelah Nani diusir wasit. Mou menghampiri Fergie, lalu berbisik, dan Fergie seperti mengangguk. Dari scene tersebut, pundit Skysports yakni, Niall Quinn, berasumsi bahwa Mou membisikkan kalimat semacam, “It was a poor decision, wasn’t it?” pada Fergie.

Di akhir pertandingan, tepatnya saat post-match interview, Mou sekali lagi menunjukkan ada yang ‘salah’ dalam dirinya malam itu. Dia berkata, “The best team lost". Dia tidak seperti biasanya berkata sejumawa itu dalam suatu pertandingan yang tensinya setinggi kemarin. Entah ini benar atau tidak, menurut saya,  sesungguhnya apa yang dikatakan Mourinho bukan dalam bentuk berempati sepenuhnya, tetapi lebih ke seperti idiom singkat berbunyi “Saya merendah untuk ditinggikan..”

Sudah cukup kita membahas Mourinho. Ada satu lagi tokoh sepak bola yang cukup mencuri perhatian kemarin, yakni legenda United, Roy Keane.

Roy Keane semalam kembali muncul di publik sebagai pundit dari ITV. Salah satu statementnya yang mana bahwa keputusan wasit dengan mengusir Nani adalah suatu keputusan yang tepat. Saya tak mengerti apakah fans United menjadi murka seperti murkanya Fegie terhadap Keane di akhir karirnya di Old Trafford. Tapi yang jelas, tak ubahnya seperti Mourinho, Roy Keane sudah sejak lama dikenal pula sebagai sosok yang meledak-ledak. Di tahun 2005, ketika United dikalahkan 4-1 oleh Middlesbrough, Roy Keane secara terang-terangan berkata pada MUTV bahwa John O’Shea, Alan Smith, Kieran Richardson, dan Darren Fletcher yang notabenenya adalah rekan-rekan setimnya di United saat itu adalah para pemain yang malas di lapangan. Selain itu, Keane juga pernah berkata pada Rio Ferdinand, Just because you are paid £120,000-a-week and play well for 20 minutes against Tottenham, you think you are a superstar.”

Sebagai pihak netral dalam pertandingan semalam, 2 statement dari Mourinho dan Roy Keane terdengar sangat aneh bagi saya. Pun begitu untuk para fans United. They used to love Keane's freakness until last night.

Begitu lah sepak bola, tak melulu soal fisik, taktik, dan segala yang ada di atas lapangan. Hal-hal kecil di luar lapangan pun merupakan sesuatu yang menarik untuk diikuti.

0

Teman Jumatan Sahin & Jiwa Bisnis Tevez

Posted on Tuesday, August 28

Minggu pagi yang cerah di Indonesia ketika saya terbangun dan membuka timeline twitter saya penuh dengan gambar Nuri Sahin oleh akun-akun fanspage LFC yang telah memberi info bahwa Sahin akhirnya resmi ke Anfield, setelah sempat berputar-putar di langit London yang malah kemudian menemui dirinya sakit hati ketika Arsene Wenger berkata dirinya tidak lebih baik dari Jack Wilshere. Fans-fans Arsenal yang seminggu sebelumnya memuji-muji Sahin pun, (sampai-sampai mem-photoshopnya dengan Kaos Arsenal), jadi ikut-ikutan kata-kata Profesor-rambut-putih-yang-konon-master-ekonomi itu. Yang sekarang konon jadi Master-PHP.

Liverpool tahu betul apa yang dibutuhkan untuk menarik hati Sahin. Mengetahui karena tidak mungkin memasukkan poin “Kami bermain di Liga Champions” dalam proposal peminjaman kepada Sahin. Liverpool mengambil opsi lain, seminggu sebelumnya, ketika Sahin digembor-gemborkan bakal ke Arsenal, Liverpool dengan dingin mentransfer Oussama Assaidi. Brendan kemudian dengan cerdas menuliskan poin “Kami menghormati agama setiap pemain. Kami telah menyiapkan calon teman jumatan kamu. Kamu bisa sholat berjamaah dengan tenang tanpa perlu khawatir disini.” ke dalam proposal tadi. Manjur, Sahin berpikir kembali dan akhirnya memilih Liverpool.

Malamnya setelah Sahin diumumkan secara resmi, tamu Manchester City telah menunggu. Game yang spesial untuk Raheem Sterling. Pemuda luar biasa yang ketika di umur 17 tahun ini saya cuma masih bisa menulis artikel ini di sudut kamar. Dia dengan umur yang sama, sudah mencatat debut Premier League dari starter di Anfield sana. Dia sama sekali tidak demam panggung. Beberapa kali Sterling merepotkan Zabaleta dan Kolo Toure dari kiri. Sayang, otot-otot Sterling belum terbentuk dengan sempurna, akselerasi brilian yang seharusnya menjadi peluang, sering gagal sia-sia ketika Kolo Toure datang menempelkan ototnya pada Sterling.

Selain Sterling, Joe Allen adalah nama yang paling menonjol di pertandingan tersebut dalam hal passing dan visi bermain. Mencatat passing accuracy sebesar 100% di babak pertama dan 93,5% di babak kedua membuat dia pantas menjadi man-of-the-match. Saya khawatir Liverpool akan kalah di lini tengah ketika di menit awal, Lucas sudah harus keluar karena cedera. Karena Yaya Toure, Samir Nasri, James Milner, dan Nigel de Jong semuanya tipe gelandang petarung. Namun saya menyadari ternyata kekhawatiran saya tak beralasan saat Allen bermain dengan saat lugas. Tak heran, Mancini bahkan memasukkan Jack Rodwell di babak kedua dibanding memasukkan David Silva terlebih dahulu, menyadari lini tengahnya kalah dari Liverpool.

Martin Skrtel, terlepas dari back-pass-nya, dia terlihat sangat terpukul sekali. Setidaknya itu menunjukkan bahwa dia benar-benar mencintai klub ini, juga jangan pernah lupakan, tidak ada yang lebih baik di dunia ini selain mencetak gol pertama bagi klub di musim ini di hadapan tribun The Kop. Bandingkan dengan Mario Balotelli, mau dia membuang peluang, mendapat kartu merah, bertengkar dengan rekan setim, atau membakar rumahnya sendiri dengan petasan, mukanya tetap lurus, tanpa ada raut muka penyesalan sedikit pun.

Kembali ke pertandingan. Di akhir pertandingan, scoreboard menunjukkan skor imbang untuk dua tim. Dua gol Liverpool adalah dari set piece, dua gol City adalah dari blunder. Meski tercipta empat gol, sejujurnya tidak banyak momen menarik dalam pertandingan tersebut kecuali free-kick luar biasa indah Luis Suarez dan momen ketika Steven Gerrard dan Pablo Zabaleta terjatuh tepat di tribun fans City. Momen yang menggelitik. Dari sorotan kamera, terlihat fans City lebih memilih untuk membantu Gerrard untuk kembali berdiri daripada membantu Zabaleta. Tentu Stevie tidak lupa untuk berkata kepada mereka, “Sorry for your help. But tell to your boss. I’m one-man-team and unbuy-able.”

Oh iya, saya hampir lupa, ada satu lagi hal menarik dari pertandingan ini. Seusai wasit meniup peluit akhir petandingan. Carlos Tevez datang menghampiri Sterling dan bertukar kaos dengan Sterling. Saya harus mengakui jiwa bisnis yang luar biasa dari Tevez. Dia seperti tahu benar cara berinvestasi untuk masa depannya. Di masa pensiunnya kelak, Tevez berpikir, ketika dirinya sudah tidak sekaya sekarang dan terbelit hutang, dia akan berjalan menuju lemari kaosnya, mengambil kaos Sterling, mem-fotonya, dan menguploadnya di twitter, “Jual jersey vintage Liverpool. Raheem Sterling. Grade ori.”

0

Apa yang Salah dengan Liverpool?

Posted on Monday, April 9

Pertandingan melawan Aston Villa di Anfield semalam seakan membuka mata saya. Membuka mata saya untuk menulis artikel ini, tentang apa yang menjadi masalah kompleks Liverpool di musim ini. Banyak orang yang mengeluhkan passion dari pemain-pemain Liverpool sehabis kalah dari Newcastle seminggu lalu. Namun sebaiknya orang-orang tersebut melihat 45 menit kedua pertandingan semalam. Tak ada yang salah dengan spirit Anfield, lalu sebenarnya apa yang salah?

Permainan Liverpool adalah yang paling British di Inggris, skema penyerangan dengan mengandalkan permainan satu dua dahulu sebelum diakhiri oleh crossing oleh Downing-Enrique maupun Gerrard-Glenjo sudah sangat mudah ditebak bagi bek-bek lawan. Belum lagi Carroll yang angin-anginan. Bila sudah begitu, Kenny biasanya akan menyuruh Suarez, Kuyt, atau Bellamy melakukan penetrasi sendirian ke dalam penalty box. Tetapi kembali lagi, apabila kembali buntu. Habis sudah Liverpool. Dan begitu lah yang terjadi di hampir setiap game Liverpool musim ini. Bukan Kenny Dalglish lah yang sepenuhnya patut disalahkan, tetapi statistik. Saya yakin anda sedang mengernyitkan dahi ketika membaca pernyataan saya barusan. Sama seperti ketika saya menarik kesimpulan dari setiap mencermati pertandingan Liverpool dari Minggu ke Minggu.

Statistik pertama. Sejauh ini, telah 28 kali peluang emas Liverpool disabotase tiang gawang. Liverpool lebih tidak beruntung 9 kali dibanding tim mana pun dengan menjadi yang terbanyak. Kalau boleh berandai-andai, bila ke28 peluang itu menjadi gol, maka Liverpool akan mengoleksi poin 56, sama dengan Newcastle dan Chelsea sekarang.

Statistik kedua, jumlah crossing Liverpool juga jadi yang tertinggi di EPL dengan rataan 29 crossing per game. Namun jangan bangga dulu, mari kita cermati pertandingan melawan Aston Villa semalam. Di babak pertama, dari 17 crossing yang tercipta, hanya 4 yang kena sasaran. Miris bila kita melihat ada nama Downing dan Carroll di jajaran line up kita.

Statistik ketiga, rataan kemampuan striker Liverpool mengkonversi peluang menjadi gol. Suarez memerlukan 15,2 shoot untuk setiap 1 gol. Andy Carroll malah lebih parah lagi, hanya 1 gol per 19,2 shoot. Bandingkan dengan Papiss Demba Cisse di Newcastle yang hanya membutuhkan 2,6 shoot untuk 1 gol. Melihat statistik ini, rasanya membeli goal-getter baru di summer nanti adalah suatu keharusan.

Rentetan statistik tersebut menyulitkan Kenny sebagai manager dalam menentukan formasi. Segala macam upaya telah dicoba. Mulai dengan tidak memasang defensive midfielder seperi melawan Aton Villa semalam, memasang formasi 4-3-3 ketika melawan Newcastle, sampai yang paling ekstrem, yang mungkin kita hanya bisa menemuinya sekali saja dalam sepak bola modern, Kenny memasang formasi 3 bek, yakni kala melawan Stoke di EPL musim ini, dengan menempatkan Carra menjadi libero. Selain formasi, semua pemain juga telah dicoba oleh Kenny. Susunan pemain Kenny di setiap laga selalu berbeda. Ketika para Liverpudlian mulai rewel meminta pemain-pemain muda untuk ditampilkan. Kenny pun menuruti. Mulai dari Kelly, Flano, Shelvey, bahkan Raheem Sterling telah mencatatkan debut perdananya. Namun tetap saja semua usaha itu hasilnya selalu minor.

Pekerjaan begitu besar menanti Kenny, pemilik Liverpool, dan Damien Comolli di summer nanti. Harus ada revolusi di beberapa pos penting. Setidaknya, menurut pendapat saya, kita membutuhkan pemain bintang di 2 posisi: goal-getter dan trequartista. Beli striker model-model pembunuh selevel Huntelaar atau Cavani untuk jadi tandem Suarez di depan. Kemudian beli playmaker kreatif semacam Luka Modric atau David Silva. Lalu geser peran Stevie menjadi sayap kanan, lihat lah betapa eksplosifnya crossing Stevie di beberapa pertandingan Liverpool terakhir, bahkan keakuratannya terkadang melebihi Downing dan Enrique. Dan yang terakhir, percayakan kembali posisi defensive midfielder kepada Lucas ketika dia comeback nanti.

Wake up, Reds!

0

Paham Politikisme Dalam Sepak Bola

Posted on Tuesday, March 13

Berbicara tentang sepak bola, erat kaitannya dengan politik. Keduanya saling berkaitan antar satu sama lain. Apalagi di negara-negara yang sepak bolanya masih dalam tahap berkembang seperti di Indonesia. Tidak hanya di negara-negara yang berkembang, di negara-negara yang maju pun demikian. Siapa yang tidak mengenal Silvio Berlusconi? Mantan perdana menteri Italia yang pernah menjabat dalam 3 periode yang berbeda. Ia pemilik klub AC Milan. Saat menjadi perdana menteri, Silvio Berlusconi tidak melulu berurusan dengan politik, ia dikenal sebagai pebisnis ulung, ia mengakuisisi AC Milan dan menjadikan klub itu ladang bisnisnya selain perusahaan stasiun tv nasional dan surat kabar terbesar di Italia yang dimilikinya.
Di negara kita, sepak bola bukan menjadi rahasia lagi bila telah menjadi dagangan politik. Para politikus-politikus berlomba-lomba mencari simpatisannya melalui jalur ini. Bukan hal yang baru jika kita sering melihat stadion-stadion di Indonesia sering disewa untuk digunakan acara-acara kampanye. Saya masih ingat tahun 2008, rumput stadion utama Gelora Bung Karno rusak berat akibat acara partai politik yang diadakan disana, padahal sehari setelah itu timnas kedatangan raksasa dari Jerman, Bayern Muenchen. Apa daya? Kita harus melihat Oliver Kahn menjalani laga perpisahannya di lapangan yang rumputnya rusak berat.
Negara kita masih dalam tahap mengindustrialisasikan sepak bolanya. Dalam arti, sepak bola kita belum sepenuhnya profesional layaknya di Eropa. Hal tersebut kembali erat kaitannya dengan politik. Belum profesional sepenuhnya sama saja masih mengandalkan APBD. Dalam hal ini lah para politikus-politikus di daerah menggunakan sepak bola untuk memuluskan kepentingannya khususnya disaat masa-masa menjelang pilkada atau sejenisnya.
Kasus terbaru terdapat pada sosok Alex Noerdin. Gubernur Sumatera Selatan yang mengaku juga sebagai pengagum olahraga di negeri ini. Akhir-akhir ini Alex Noerdin disebut-sebut akan diusung partai Golkar dibawah naungan Aburizal Bakrie untuk menjadi calon gubernur DKI Jakarta pada masa periode yanga kan datang. Entah partai Golkar yang memang jago berpolitik dalam sepak bola atau bagaimana, seperti saat AFF 2010 timnas diundang dijamu makan di kediaman petinggi Golkar itu.
Start “kampanye” awal telah dilakukan ketika Persija melawan Persegres di GBK. Alex Noerdin tampak datang menonton pertandingan sambil memakai syal Persija. Cukup aneh bukan, seorang gubernur Sumatera Selatan datang menonton Persija dan memakai syal oranye kebanggaan Persija, padahal Sumatera Selatan sendiri punya Sriwijaya FC. Padahal seminggu sebelumnya, banner Alex Noerdin masih terpampang jelas di samping lapangan Gelora Jakabaring Palembang ketika Sriwijaya menjamu Mitra Kukar. Alex Noerdin tidak sendiri hadir di GBK, ia didampingi Hendry Zainuddin yang tidak bukan merupakan direktur teknik dari Sriwijaya FC. Hendry bahkan terlihat lebih “aneh” lagi, ia bahkan memakai kaos oranye kebanggaan Persija. Apakah tidak lebih aneh, seorang direktur teknik suatu tim datang menonton tim yang merupakan rival dari timnya sendiri dan memakai kaos tim rivalnya tersebut.
Jika alasan yang dikemukakan nantinya adalah beliau-beliau ini menonton Persija dan memakai atribut Persija dikarenakan Sriwjiaya masih memiliki ikatan historis dengan Persijatim Jakarta Timur di masa lalu. Maka saya bersukur selama ini bukan menjadi bagian pendukung sejati Sriwijaya, karena saya tidak merasakan sakit hati seperti yang dirasakan fans-fans Sriwijaya disana.

0

Era Baru Kenny Dalglish

Posted on Thursday, March 1

Tepat 1 tahun dan 1 bulan sejak comeback-nya Kenny Dalglish ke Melwood. Liverpool akhirnya kembali berhasil merengkuh gelar pertamanya setelah puasa gelar hampir selama kurang lebih 6 tahun dan juga mengakhiri penantian panjangnya untuk kembali ke Wembley setelah 16 tahun lamanya. King Kenny seperti tahu benar bagaimana cara untuk mengembalikan pesta juara yang selama ini sangat dirindukan oleh seluruh Liverpudlian di seantero dunia.

Seperti penggalan quote Kenny yang saya baca di beberapa media online beberapa hari kemarin, yang kurang lebih isinya seperti ini, "Sebelum Istanbul, generasi fans saat itu tidak punya cerita seperti yang orang tua mereka punya, karena LFC bertahun-tahun tidak ke final UCL. Mereka akhirnya punya kisah tentang perjalanan & perayaan di Istanbul. Meski Carling kompetisi kecil, fans juga akan tetap punya cerita..".
Yap, benar.. Kenny memberi cerita lain kepada kita semua Minggu lalu, meski dengan jalan cerita yang hampir sama dengan cerita-cerita yang sebelumnya. Cerita final dramatis yang berujung manis. Tipikal Liverpool memang.
Pertandingan tampak akan terasa berjalan mudah bagi Liverpool ketika di menit ke-2 tendangan Glen Johnson sudah membentur mistar gawang Cardiff. Quarter awal babak pertama begitu didominasi Liverpool terutama lewat sisi kiri oleh Stewart Downing yang tampil begitu impresif malam itu. Namun tak lama, tribun The Kop di belakang gawang Reina tiba-tiba dikejutkan oleh gol cepat Joe Mason. 1-0 untuk Cardiff.
Di sisa akhir babak pertama Liverpool terus mengurung pertahanan Cardiff, tetapi skor tidak berubah sampai turun minum. Babak kedua dimulai, Liverpudlian mulai harap-harap cemas, banyak peluang emas gagal dari Suarez, Carroll, dan Agger yang semakin membuat jantung para Liverpudlian berdetak lebih keras dan cepat. Hingga akhirnya, Martin Skrtel mencairkan semuanya. Sebuah tendangan menulusur tanah hasil rebound Suarez yang melewati sela-sela kaki kiper Cardiff. Skor berubah imbang, 1-1.
Skor terus berimbang. Kenny Dalglish mulai terdesak untuk memasukkan nama-nama baru yang bisa menyegarkan permainan. Berbagai percobaan terus dilakukan. Dan itu akhirnya membuahkan hasil nyata, Dirk Kuyt muncul sebagai sosok protagonis. Gol Kuyt meledakkan Wembley. Liverpudlian mulai menyayikan chant-chant seakan amat yakin bila Carling Cup tahun ini akan terbang ke Anfield. Namun tidak secepat itu, lads.. Ben Turner mengingatkan kita semua agar tidak berpesta kepagian dan kembali melihat ke tanah sebelum wasit meniupkan peluit panjangnya. Kita disuguhi jalan cerita yang sama lagi, adu penalti.

Jari-jari dan rahang yang menegang mencapai klimaksnya. Sempat diwarnai drama kecil keluarga Gerrard yang sama-sama gagal mengeksekui penalti, Liverpool lagi-lagi menunjukkan magisnya di final.
Kemenangan ini membawa kita kembali ke medio awal 2000-an di masa kepelatihan Gerrard Houllier. Momennya sama persis. Setelah hampa gelar di akhir 90-an, Houllier menghapus dahaga kala itu dengan membawa Liverpool menjuarai Carling cup edisi 2001. Skuad Liverpool pun tak kalah sama persis seperti sekarang, yakni perpaduan seimbang antara pemain muda dan pemain senior. Bila waktu itu Robbie Fowler dan Gary McAllister yang membimbing Michael Owen, Steven Gerrard, dan Jamie Carragher. Kini giliran Stevie dan Carra lah yang gantian membimbing pemain-pemain muda semacam Carroll, Downing, dan Henderson. Bila dihitung dengan matematika dasar di atas kertas putih, dari trofi Carling Cup 2001 ke trofi Uefa Champions League 2005 hanya membutuhkan 4 tahun saja.
Maka, bukankah tidak salah bila kita berharap yang sama dalam beberapa tahun ke depan? Biarkan King yang menjawabnya.

0

Hari itu Kita Bersatu

Posted on Thursday, December 30


Rabu, 29 Desember 2010
Kan kukenang selalu hari itu...

Bangsa ini melupakan sejenak warna kebesaran suporter kedaerahannya, melupakan perbedaan sukunya, melupakan perbedaan agamanya. Laki-laki, perempuan, tua, muda semuanya bersama dalam satu warna yang sama yaitu merah putih dan bersama mengenakan satu kebanggan yang sama yaitu garuda di dada. Gelora Bung Karno bagaikan satu titik pusat dari seluruh luas wilayah negeri ini. Gelora Bung Karno tak ubahnya seperti tempat ibadah bagi seluruh rakyat negeri ini.

Urusan mengerti permainan atau tidaknya itu urusan nanti.


Ya, ini hanya permainan sepakbola, lawan yang akan dihadapi pun hanya negara tetangga. Bukan negara-negera dunia seperti Spanyol atau Belanda. Tapi ini lebih dari soal lawan yang akan dihadapi. Ini urusan harga diri.

Sejak pagi Gelora Bung Karno sudah banyak didatangi oleh para calon jemaahnya. Media juga sudah menjadi barang tentu untuk tidak lupa melakukan laporan langsungnya. Semua sudah siap, rumput lapangan yang 3 hari sebelumnya rusak diinjak-injak sudah siap. Begitu pula dengan keamanan, tak kurang dari 9.000 personil telah disiapkan, baik di luar maupun di dekat lapangan. Apa yang kurang? Tidak ada. Kita hanya tinggal menunggu rombongan 11 kesatria kebanggaan kita itu untuk datang.


Sorenya, Gelora Bung Karno sudah mencapai kapasitas maksimalnya. Presiden sampai tukang becak sudah menikmati tempatnya masing-masing. Rombongan kesatria yang kita tunggu pun telah datang. Opa Riedl kembali ke formasi yang sama ketika membantai Malaysia di fase grup, kecuali minus Okto yang terkena akumulasi kartu kuning. Markus yang dikabarkan cedera sehari sebelumnya ternyata tetap diturunkan. Di kuartet pertahanan, Zulkifli, Hamka Hamzah, Maman, dan Nasuha sudah menjadi harga mati sejak babak penyisihan. Di tengah, M. Ridwan, Firman, Bustomi, dan Arif Suyono dipasangkan bersama, praktis tidak ada perubahan di tengah. Hanya di posisi depan yang ada sedikit kejutan, banyak pengamat yang memprediksi Gonzales akan dipasangkan dengan Bambang Pamungkas khusus untuk pertandingan ini. Tapi ternyata Riedl tetap pada pakem awal, malam ini Riedl lebih mempercayakan Irfan daripada Bambang untuk mendampingi Gonzales di lini depan.

Pemain memasuki lapangan, lagu Indonesia Raya berkumandang. Ada yg menggengam tangannya di dada, ada yang mengepalkan tangannya di udara, sampai ada juga yang menangis! Tengok ekspresi M. Ridwan ketika menyanyikan Indonesia Raya! Dia menangis, harmoni yang luar biasa!

Babak pertama dimulai, pemain kita masih mencari ritmenya. Beberapa kali M. Ridwan lepas kontrol bolanya. Selepas 15 menit berlalu, momentum itu akhirnya datang. Sebuah crossing dari Zulkifli menimbulkan kemelut di muka gawang Malaysia. Bola liar, Arif Suyono tiba-tiba datang dan menyundul bola, bola menyentuh tangan Mohd. Sabree, bek Malaysia. Penalti! Sang kapten maju untuk mengambilnya, tapi apa daya, tekanan yang ada di pundaknya begitu besar. Bola yang ditendangnya hanya meluncur pelan. Penalti gagal! Momentum emas itu hilang. Di sisa waktu babak pertama, Indonesia terus menekan. Tercatat lebih dari 5 peluang emas tercipta tapi belum menemui hasil. Skor masih imbang tanpa gol.

Babak kedua adalah penentuannya. Tak ada pilihan lain bagi Indonesia kecuali menyerang habis-habisan untuk mengejar defisit 3 gol dari Malaysia.
Baru 10 menit berjalan, Maman melakukan salah umpan. Bola diterima Mohd. Ashari. Tanpa pikir panjang, Ashari mengirim bola diantara dua bek Indonesia, Zulkifli dan Hamka Hamzah. Bola tersebut langsung ke depan menuju Mohd. Safee. Hanya dengan sekali sentuhan dan sekali tendangan, masuk! Sebuah tamparan dari Malaysia.


Arif Suyono menangis sesaat setelah gol Malaysia

Posisi Indonesia semakin terjepit, se-terjepitnya posisi Nurdin kala itu. Penonton mulai menyuarakan "Nurdin Turun Nurdin Turun".

Indonesia harus mencetak 5 gol dalam kurun waktu 30 menit yang tersisa! Riedl melakukan penyegaran, Arif Suyono yang kram diganti Toni Sucipto, Nasuha ditarik agak ke depan. Bambang pun akhirnya masuk bersama Eka menggantikan Irfan dan Firman. Tampak di layar, Irfan sangat terpukul saat di bench pemain.

But, the game must go on... Indonesia menekan habis-habisan. Menit 70, crossing dari Zullkifli membentur badan pemain Malaysia. Bola ke tengah, ada Bustomi disana. Ruang untuk menembak sangat terbuka, namun Bustomi tidak memutuskan untuk menembaknya langsung, dia cerdas! Dia memutuskan untuk meng-keeping bola terlebih dahulu baru menembak. Sayang, tendangannya masih bisa ditepis kiper Malaysia yang memang tampil baik malam itu, bola rebound, tetapi Nasuha seketika datang menyongsong bola, dan... gol untuk Indonesia!

Secerca harapan muncul, tapi sudah terlambat.
Waktu hanya tersisa 10 menit. Pemain kita masih terus menekan pertahanan Malaysia. Tidak harus juara, mencetak 1 gol lagi dirasa sudah cukup, minimal untuk membuktikan ke negara sebelah itu kalo kita bisa menang tanpa ada teror dsb. Dan akhirnya berhasil, menit 87 sebuah solo run dari M. Ridwan membuahkan hasil. Tendangan Ridwan membentur kepala bek Malaysia sebelum masuk ke jala Malaysia! Skor akhir, Indonesia 2-1 Malaysia.

Lupakan sudah soal piala itu!
Ada yang lebih penting, kita berhasil menjaga kesucian Gelora Bung Karno selama AFF 2010 ini, kita tak pernah kalah disana! Dan yang terpenting dari semuanya, sepakbola di AFF 2010 ini mampu memberikan semangat baru bagi bangsa yang luar biasa ini!

Terimakasih Irfan, Christian, Maman, Firman dan lainnya...
Sepakbola adalah pemersatu bangsa, salam garuda di dada!

5

Pemain Kita Belum Berani

Posted on Wednesday, September 8



Pernahkah kita melihat pemain Indonesia yang bermain di luar Indonesia?

Coba hitung, paling juga nggak banyak.
Sampai saat ini cuma ada nama-nama...

Iswadi Idris (Western Suburbs. Australia)Surya Lesmana, Risdianto, Gunawan & Jeffrey (Mackinnon Mackenzie. Hong Kong)Ricky Yacobi (Matsushita (sekarang Gamba Osaka) Jepang)Robby Darwis (Kelantan FC. Malaysia)Bambang Pamungkas (EHC Norad Belanda & Selangor FC Malaysia)Kurniawan DJ (Sampdoria FC. Italia, FC Luzern Swiss & Serawak FC. Malaysia)Kurnia Sandy (Sampdoria FC. Italia)Rocchy Putiray (Instant Dict, Kitchee FC & South China FC. Hongkong)Bima Sakti (Helsingborgs IF Swedia)
Ilham Jaya Kesuma
(MPPJ Selangor, Malaysia)Ponaryo Astaman (Telkom Malaysia)Elie Aiboy (Selangor FC Malaysia)Budi Sudarsono (Polis Di Raja Malaysia).Jajang Mulyana & Riyandi Ramadhanaputra (Boavista FC. Brazil)

Mungkin ada beberapa lagi.
Satu pertanyaan muncul: “Kenapa pemain-pemain kita nggak mau main di luar, dan cuma main di liga sendiri?”
Jawabannya : pemain-pemain kita cenderung sudah nyaman dengan persepakbolaan Indonesia, sudah nyaman dengan kehidupan di Indonesia. Mereka sulit untuk jauh dengan keluarga. Mereka rasa gaji mereka yang di Indonesia sudah cukup, tanpa harus merantau ke luar Indonesia.

Coba tengok sedikit ke luar. Kenal nama-nama Samuel Eto’o? Didier Drogba? Atau Salomon Kalou?

Mereka sudah sangat familiar di seluruh dunia. Mereka pebola Afrika. Kenapa mereka begitu sukses? Jawabannya karena mereka berani untuk mencari tantangan. Mencari sesuatu yang baru.
Kehidupan mereka di Afrika tentu tidak sebagus kehidupan pebola kita di Indonesia. Tapi inilah yang mendorong mereka untuk memperbaiki kehidupan sosial mereka. Dengan cara? Ya itu tadi, mereka datang merantau ke Eropa untuk bermain bola, dengan harapan ada klub Eropa yang melirik mereka.

Balik ke pemain-pemain kita.
Flashback ke pemain-pemain kita yang udah pernah merantau macam mas bepe dll.
Bagaimana kiprah mereka di klub-klub luar? Nggak memalukan kok. Malah bisa dibilang cukup sukses.

Tengok bagaimana aksi heroik Bambang Pamungkas dan Elie Aiboy di Selangor FC tahun 2005 silam. Mereka dieluk-elukkan. Mereka dipuja bak pahlawan, Mereka jadi aktor penting Selangor FC untuk memenangkan treble winners kala itu.
Selain mas Bepe dan Elie Aiboy. Indonesia masih punya Kurniawan Dwi Julianto, Rocchy Puttiray, dll...

Masih ingat proyek besar PSSI? yaitu proyek Primavera dan Baretti di Italia pada awal dekade 90an silam? Pada masa-masa itu Indonesia punya anak kurus yang disebut-sebut the rising star. Kurniawan “si kurus” Dwi Julianto. Yap, Mas Kurniawan dirasa adalah aset paling menjanjikan pada saat itu. Saat itu dia cepat, lincah, penempatan posisinya juga bagus.
Kurniawan Dwi Julianto seangkatan dengan Alessandro Del Piero (pemain Juventus saat ini). Saat itu, mereka berdua oleh media Italia dianggap adalah dua bintang masa depan di Italia yang paling menjanjikan.

Jadilah saat itu mas kurus gabung dengan Sampdoria FC. Lalu Ale Del Piero gabung dengan Juventus.
Bedanya, kala itu harapan mas kurus harus pupus, dan harus balik ke Indonesia. Sedangkan Ale tetap jadi bagian Juventus hingga sekarang, bahkan Ale sekarang jadi kapten nomer satu Juve.


Selain itu, proyek Primavera Baretti juga sempat menelurkan Kurnia Sandy. Kiper Indonesia ini juga sempet mencicipi bergabung dengan Sampdoria FC.

Ada satu cerita lagi dari pemain Indonesia yang jadi perantauan dari luar. Cerita datang dari Rocchy Puttiray.
Pemain yang dikenal nyentrik. Dengan gaya rambut dan cara pemilihan dan penggunaan sepatu yang bisa dibilang “aneh”. Tahun 2004, AC Milan mengadakan tur pra musim ke Asia, dan salah satu tim yang beruji coba dengan AC Milan saat itu adalah Kitchee FC (Hongkong). Tim yang dibela Rocchy Puttiray. Rocchy saat itu kebetulan adalah jadi ujung tombak andalan Kitchee FC.



Yang bikin bangga, Rocchy nyetak 2 gol di pertandingan di itu, dan membuat timnya menang 2-1 atas raksasa Italia AC Milan (meskipun bukan semuanya tim inti Milan) tapi Andrey Shevchenko ikutan main waktu itu. Andrey Shevchenko adalah mantan pemain Milan asal Ukraina yang sempet mecahin rekor transfer terbesar di Inggris saat ditransfer dari Milan ke Chelsea tahun 2006. Entah apa yang dihati Rocchy Putiray kala itu :P

Ini harus jadi pelajaran agar kedepannya bisa jadi lebih baik. Pemain-pemain kita harus lebih berani berbicara banyak di dunia luar. Jangan takut mencoba sesuatu hal yang baru. Nggak selamanya
“ranah perantauan itu seburuk seperti apa yang kita kira kok”.